Mengapa Orang Benar Menderita?

Mengapa orang benar menderita

Mengapa orang benar menderita? Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa orang benar dan saleh akan terbebas dari penderitaan. Namun sebaliknya, Alkitab banyak menuliskan tentang kisah orang benar yang menderita dan pada akhirnya diberkati oleh Tuhan.

Jadi, penderitaan dan kesulitan bisa datang kepada siapa saja, yang membedakan adalah cara mereka menghadapi kesulitan dan penderitaan tersebut.

Semenjak Adam jatuh ke dalam dosa, kehidupan manusia menjadi semakin sulit. Manusia harus bekerja keras dan bersusah payah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dapatlah dikatakan bahwa penderitaan terkadang menjadi tantangan yang paling berat.

Ada banyak kisah di dalam Alkitab yang menceritakan bahwa orang benar juga menderita dan mengalami masa-masa yang sangat sulit.

Mengapa Orang Benar Menderita?

Ada kisah-kisah di dalam Alkitab yang bisa menjadi pelajaran bagi kehidupan kita di masa kini. Misalnya penderitaan raja Daud ketika dikejar-kejar oleh pasukan Saul, penderitaan Ayub karena penyakit dan ada juga kisah mengenai Yusuf yang dijual menjadi budak oleh saudara-saudaranya.

Kisah-kisah tersebut menjadi bukti bahwa orang-orang saleh dan takut Tuhan juga tidak luput dari berbagai penyakit dan juga penderitaan.

Jika demikian, apakah orang-orang benar tersebut tidak dipelihara oleh Tuhan? Mengapa orang-orang saleh dan benar tersebut harus menderita?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi renungan kita pada hari ini, mengapa orang benar harus menderita? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan oleh kita sebagai anak-anak Tuhan.

Kisah mengenai kehidupan Ayub tentu bukanlah hal yang asing lagi bagi kita, bahkan dalam khotbah-khotbah di gereja topik mengenai kesalehan dan penderitaan Ayub sering diangkat serta dijelaskan berulang-ulang.

Namun meskipun peristiwa itu disampaikan berulang-ulang, itu hanya sampai pada level pengetahuan saja. Sehingga ketika mengalami kesulitan, sakit penyakit atau masalah-masalah dalam hidup maka muncul berbagai respon berdasarkan kualitas iman masing-masing.

Penderitaan Adalah Ujian Iman

Kisah Ayub dijelaskan dalam pasal 1:1 demikian: Ayub berasal dari tanah Us, ia adalah orang yang saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi segala kejahatan. Ia termasuk orang yang terkaya dari semua orang di sebelah timur pada waktu itu (ay. 2-4).

Ada kemungkinan wilayah Ayub hampir sama dengan wilayah Abraham sebelum mereka menetap di Haran, yaitu Mesopotamia. Ayub sangat kaya, saleh dan begitu mengasihi Tuhan, sehingga membuat Iblis mengajukan permintaan kepada Tuhan untuk menguji Ayub.

Ketika anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka juga datanglah Iblis (Ay. 1:6-11). Terjadilah percakapan yang tujuannya untuk menguji iman dan kesalehan Ayub, maka Iblis mendapatkan ijin untuk menimpakan malapetaka kepada Ayub (Ay.1:12).

Pada akhirnya malapetaka menimpa Ayub, kekayaan lenyap dan anak-anaknya meninggal, lalu Ayub mengkoyakan jubah dan mencukup kepalanya dan sujud menyembah Allah. Katanya, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku maka dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya” (Ay. 1:21).

Dari ujian tersebut terlihat jelas bahwa dalam semuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut (Ay.1: 22). Kisah Ayub mengajarkan bahwa penderitaan bisa datang kepada siapa saja, baik orang benar maupun orang jahat.

Penderitaan Bagian dari memikul Salib

Di dalam Kitab Lukas 9:23 menjelaskan bahwa, “setiap orang yang mau mengikut Tuhan Yesus, maka ia harus menyangkal diri, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti-Nya”. Ayat menjadi pengajaran dan sekaligus jawaban dari berbagai pertanyaan mengenai penderitaan orang benar.

Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa setiap orang harus memikul salibnya setiap hari, tentulah hal berbicara mengenai sebuah tanggung jawab yang harus diterima dalam mengikut Kristus.

Bahkan secara mendasar tanggung jawab dan beban itu sudah diberikan kepada masing-masing orang, sehingga mereka memikul salibnya sendiri-sendiri.

Memikul salib sebagai gambaran mengenai persoalan-persoalan ataupun masalah yang harus ditanggung dan dihadapi oleh anak-anak Tuhan, sebagaimana Tuhan Yesus sendiri memikul salib dengan menderita menuju bukit Golgota.

Oleh sebab itu, tidak ada perbedaan mengenai datangnya penderitaan; apakah kepada orang saleh dan benar atau kepada orang yang jahat?

Namun keduanya memiliki tujuan dan akhir yang berbeda. Penderitaan menurut orang percaya adalah ujian iman yang akan membawa kepada berkat-berkat Allah. Sedangkan bagi orang-orang jahat dan fasik penderitaan adalah bagian dari hukuman karena perbuatan mereka.

Penderitaan bisa datang kapan saja dan tidak ada yang tahu, sehingga anak-anak Tuhan perlu berjaga, berdoa dan selalu bergantung kepada Allah.

Apabila permasalahan dan kesulitan-kesulitan dalam hidup terjadi, mereka dapat bertahan dan tidak melakukan dosa seperti halnya Ayub dan Yusuf. Percayalah kepada firman-Nya. Kristus adalah sumber hidup kita.

Penderitaan Memurnikan Iman

Penderitaan dan kesulitan-kesulitan adalah ujian iman, apabila seseorang tahan uji maka ia akan semakin bertumbuh dan berakar di dalam Kristus.

Ayub menjadi contoh orang yang setia dan bertahan di dalam pencobaan, dalam masa-masa sulit tersebut Ayub tetap setia kepada Allah.

Ayub 2:7 menjelaskan bahwa Iblis menimpakan barah yang busuk kepada Ayub dari ujung kaki sampai ujung kepala. Karena penderitaannya, istrinya pun putus asa dan menyuruh Ayub untuk mengutuki Allah. Namun Ayub masih bertekun dalam kesalehan meskipun barah itu merusak tubuhnya.

Iman dan kesetiaan Ayub tidaklah diragukan lagi, bahwa ia adalah orang yang benar-benar memiliki iman yang teruji. Apabila melihat akhir yang happy ending dari kisah Ayub, maka kesetiaannya membawa berkat yang berlimpah-limpah kepada Ayub.

Allah memberkati Ayub berlipat-lipat ganda karena dalam segala hal ia tidak berbuat dosa. Oleh sebab itu, jangan takut menghadapi penderitaan, karena di sanalah kasih Allah akan nyata.

Penutup: Mengapa Orang Benar Menderita?

Mengapa orang benar menderita? Penderitaan bagi orang percaya adalah sebagai ujian iman, bagian dari memikul salib dan penderitaan juga sebagai cara untuk memurnikan iman.

Tetaplah bertahan dan terus bergantung kepada Allah adalah cara yang tepat dan berbahagialah karena ikut serta dalam mengambil bagian dalam memikul salib.

Dalam segala hal Allah selalu peduli dan memperhatikan kehidupan anak-anak-Nya, bahkan Ia menjaga dan memelihara hidup kita sampai hari ini. Jika pecobaan datang, jangan pernah menyerah, ada banyak ayat Alkitab tentang pengharapan yang bisa menguatkan kamu.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *