Pendidikan anak selalu di mulai dari keluarga bukan dari sekolah. Ole sebab itu, tempat anak belajar terbaik adalah lingkungan keluarga. Ketika orang tua berkata-kata, berkomunikasi, menerapkan hukuman, hingga marah atau memukul ini menjadi kurikulum pertama yang membentuk karakter dan kepribadian anak.
Ketika seorang anak bandel dan nakal di sekolah, maka itu adalah hasil pengamatan dan belajarnya bersama keluarga. Sedangkan sekolah, adalah pendidikan lanjutan dari keluarga. jadi, kenakalan anak yang pertama selalu mulai dari lingkungan keluarganya.
Karena pendidikan anak ini terlalu penting, maka kita akan memahaminya berdasarkan teori pola asuh dari psikolog Diana Baumrind. Dia adalah seorang psikolog perkembangan asal Amerika, dan dikenal dengan teorinya “parenting styles”.
Baumrind mengklasifikasikan pola asuhnya menjadi beberapa tipe, yang nantinya akan kita bahas lebih lanjut alam artikel ini.
Pendidikan dan Pola Asuh Anak
Pendidikan anak sejak dini dan pola asuh orang tua akan menentukan arah hidup anak sampai ia dewasa. Menurut Diana Baumrind, seorang anak yang dibesarkan dengan kasih sayang dan aturan yang seimbang cenderung lebih stabil secara emosional.
Namun sebaliknya, jika salah satu aspek tersebut terlalu terlalu berlebihan (dominan) atau terlalu keras maka anak akan kehilangan arah dan mengalami kebingungan nilai.
Biasanya, banyak orang tua banyak terjebak dalam hal ini, yaitu pendidikan yang tidak seimbang, “terkadang kasih sayang berlebihan” atau justru “aturan yang ketat dan hukuman yang berlebihan.”
Klasifikasi Pola Asuh Menurut Diana Baumrind
Diana Baumrind menekankan dua hal penting dalam pengasuhan, yakni: “kehangatan” (responsiveness) dan “kontrol” (demandingness). Kehangatan dan kontrol adalah dua kombinasi sangat menentukan tentang bagaimana anak belajar mengenai batasan, tanggung jawab, dan juga rasa aman.
Diana Baumrind membagi beberapa pendekatan dalam hal pola asuh anak, yakni: pola asuh “authoritative”, pola asuh “otoriter”, pola asuh “permisif”, dan pola asuh “tidak terlibat”.
1. Pola Asuh Authoritative
Authoritative sering dianggap sebagai pola asuh yang paling ideal, karena orang tua dapat bertindak tegas, tetapi juga tetap hangat kepada anak. Mereka membuat aturan dan menerapkannya secara disiplin, namun juga menjelaskan alasan di balik aturan yang dibuatnya.
Ini pola asuh yang ideal dan sangat baik bila diterapkan. Prinsipnya:
- Orang tua punya aturan jelas terhadap anak
- Komunikasi dan interaksi yang hangat dan dan menjelaskan alasan aturannya
- Anak diperbolehkan untuk bertanya dan boleh berbeda pendapat dalam batas yang wajar.
Contoh:
“Kamu hanya boleh main HP hanya sampai jam 8.00 Malam, karena besok sekolah. Kalau kamu bangun kesiangan, kamu sendiri yang rugi.”
Dengan demikian anak belajar untuk mendengarkan, belajar berpikir, belajar taat, belajar disiplin dan memahami alasan aturan tersebut dan bukan hanya sekedar taat.
Anak-anak yang diasuh dan dididik dengan pola ini biasanya:
- mereka lebih percaya diri
- mampu untuk mengendalikan diri atau mengontrol emosinya
- bertanggung jawab dan memiliki kemampuan sosial yang baik.
Perlu juga untuk diketahui orangtua adalah pola ini bukan soal “baik hati”, tapi soal konsistensi yang berempati. Orang tua tidak hanya mengatur, namun juga hadir secara emosional.
2. Pola Asuh Otoriter: “Authoritarian Parenting”
Pola asuh ini berbanding terbalik dengan “authoritative”. Pendidikan anak dengan pola ini lebih menekankan kontrol atau aturan yang otoriter dan kehangatan yang lebih rendah. Contohnya aturan yang dibuat harus dipatuhi oleh anak tanpa diskusi.
Ini merupakan pola asuh yang keras dan satu arah.
- biasanya, orang tua menuntut kepatuhan penuh kepada anak, tanpa memberikan alasan
- orang tua selalu mengatur tanpa adanya komunikasi yang baik
- orang tua cenderung tidak memberi ruang untuk diskusi.
Contoh:
“Hari ini kamu harus membantu mama membersihkan rumah, dan tidak boleh main, mengerti!”
Sikap orang tua yang seperti ini akan membuat menjadi:
- takut, tapi tidak sepenuhnya taat
- kurang bertanggung jawab karena ia patuh ketika diawasi, ia bisa memberontak secara diam-diam
- biasanya anak menjadi kurang percaya diri
Akibatnya:
- anak memang cenderung patuh, tapi ia merasa kurang dihargai
- rentan memberontak saat tidak diawasi.
jadi, pola asuh seperti ini sering terjadi karena kurangnya pengetahuan orangtua mengenai cara mendidik anak. Dalam banyak hal, orang tua kehilangan ruang dialog dengan anak-anaknya karena otoriter. Anak tidak lagi belajar berpikir, namun selalu belajar takut karena orangtua yang terlalu tegas.
3. Pola Asuh Permisif
Pola asuh ini tidak ideal, karena orang tua terlalu sayang, tetapi minim aturan. Anak diberikan kebebasan hampir tanpa batas, yang bisa mempengaruhi perkembangan sikap dan emosionalnya.
Orang tua hadir dan sayang, tapi hampir tidak memberi batasan. Ciri-cirinya:
- orang tua terlalu dekat dengan anak
- kurangnya aturan dan ketegasan
- orang tua cenderung menuruti keinginan anak.
Contoh: “jika kamu mau membeli HP ya beli saja! Nanti uangnya mama kasih!”
Dampak kepada anak:
- anak merasa dicintai dan apa yang mereka inginkan pasti diperoleh
- anak kurang bertanggung jawab dan cenderung mengabaikan
- sulit mengontrol keinginannya
- apa yang dia mau harus diperoleh.
Masalah utama pada pola asuh ini adalah terlalu banyak kasih sayang yang berlebihan. Sekilas pendidikan anak melalui pola asuh Permisif terlihat penuh kasih, tetapi sebenarnya penuh berisiko.
4. Pola Asuh Tidak Terlibat: “Neglectful Parenting”
Ini adalah pola asuh yang paling berbahaya, dan sering kita temukan dalam keluarga-keluarga di sekitar kita. Orang tua tidak tidak memiliki kehangatan dan komunikasi, tidak memiliki aturan di rumah dan membiarkan anak begitu saja.
Dapat diartikan dalam pola asuh ini: “orang tua tidak pernah hadir secara emosional.”
Akibatnya:
- anak tidak mendapatkan perhatian dan kehangatan dari orang tua
- anak tidak belajar apa pun dari orang tuanya
- mereka akan mencari perhatian di luar, dan bisa terpengaruh hal-hal yang kurang baik.
Dari sini terlihat jelas polanya, yaitu ketiadaan peran orang tua itu sendiri.
Refleksi: Tidak Ada Orang Tua yang Sempurna
Dalam kehidupan nyata, banyak orang tua tidak sepenuhnya berada dalam satu kategori. Misalnya, terkadang tegas dan disiplin, namun terkadang cenderung membiarkan.
Namun, yang menjadi penda adalah apakah orang tua mempunyai kesadaran untuk mendidik, mengasuh dan mendampingi anaknya dengan baik.
Orang tua perlu tahu bahwa:
- anak membutuhkan kehangatan, didengar dan bukan hanya diatur
- aturan yang dibuat harus jelas, anak harus diberi pengertian
- kasih sayang harus sesuai, jangan membiarkannya hidup tanpa aturan
Maka di situlah pendidikan anak dalam keluarga mulai berjalan dengan benar.
Kesimpulan: pendidikan Anak
Teori pendidikan anak berdasarkan pola asuh menurut Diana Baumrind memberi kita peta sederhana mengenai peran dan cara orang tua memperlakukan anak. Pendidikan haruslah seimbang, kasih sayang dan aturan adalah kunci kunci membentuk kepribadian mereka.
Sepertinya, pola asuh “authoritative” menjadi titik ideal bagi orang tua untuk membantu berkembang menjadi mandiri, percaya diri, dan bertanggung jawab.
Meskipun demikian, yang paling penting bukan soal memilih pola asuh, melainkan membangun hubungan yang sehat antara orang tua dan anak. Karena pada akhirnya, tempat pertama dan utama bagi anak untuk belajar adalah keluarga dan lingkungan sekitarnya.



